Harusnya
aku memang tak perlu menghubungimu lagi, jika hanya untuk membuat ku
mejatuhkan air mata kembali ketika balasan mu tak sehangat dulu.
Harusnya tak perlu aku membantumu lagi, jika hanya untuk kamu sakiti
untuk yang kedua kali. Harusnya sudah sejak dulu kita menjauh,
sehingga aku tak merasa terluka sedalam ini.
Kamu
menawarkan banyak hal yang seharusnya aku tolak. Aku kira, aku sekuat
baja, ternyata aku hanya Hawa yang tertipu dengan bisikan ular
berbisa. Bodohnya, aku mencintaimu, sangat mencintaimu, perasaan itu
pun masih sama meskipun aku berusaha sekuat mungkin untuk
menghindarimu.
Sekarang,
aku merasa menjadi gadis paling tolol yang tiba-tiba lemah karena
tersakiti cinta. Kamu pergi justru di saat aku berharap semua mimpi
kita bisa menjadi nyata. Aku kira kamu berbeda dan di otakku telah
muncul banyak khayalan yang suatu saat bisa kita abadikan. Telah aku
bayangkan bagaimana bahagianya aku disaat kamu menemani ku dalam
beratnya proses menyelesaikan skripsi sampai nantinya kamu
mendamppingi ku dalam prosesi wisuda. Kamu, ya kamu yg aku harapkan
berdiri disamping ku saat aku mengenakan baju wisuda dan memegang
toga, kamu yg aku harapakan dapat datang ke kampus ku bersama kedua
orang tua ku. Aku telah membangun semua mimpi itu meskipun kamu tidak
pernah tahu, tapi tiba-tiba kamu remukan semua, kamu hancurkan tanpa
pikir panjang, dan kamu meninggalkanku seperti tak terjadi apapun.
Kamu
tidak akan pernah tahu rasanya jadi aku. Jadi orang yang sulit untuk
bernapas karena tidak tahu kabarmu. Kamu tidak akan pernah tahu
rasanya jadi perempuan yang diam-diam menangisimu ketika membaca
seluruh pesan singkat kita dulu. Kamu tak akan pernah tahu rasanya
jadi orang paling menderita karena merasa pura pura kuat padahal
mengalamai kerapuhan . Kamu tidak akan pernah tahu dan tak akan
pernah paham. Perasaan dan hatimu yang telah mati tak akan mungkin
mengerti.
Iya,
aku yang bodoh, semua salahku, selalu salahku. Aku tidak bisa
melupakan suara sepeda motormu, kendaraan yang selalu mengantarku
pulang hingga depan rumah. Aku tidak bisa melupakan bagaimana kamu
menyatakan cinta didalam mobil Corola Altis mu itu . Aku tidak bisa
lupa caramu memandangku dari kaca spion motor, bagaimana matamu
melirikku dengan ramah. Aku tidak bisa melupakan pelukmu, yang selalu
kuanggap rumah untuk pulang. Aku tidak bisa melupakan leluconmu yg
selalu membuat ku tertawa dan merindukan mu. Aku tidak bisa lupa
bagaimana tawamu bisa benar-benar membuatku merasa lega dan tenang.
Aku tidak bisa melupakan dialek anehmu saat berbicara, gaya bicaramu
yang selalu membuatku rindu. Aku tidak bisa melupakan genggaman erat
jemarimu yang entah bagaimana bisa seketika menenangkanku. Aku tidak
bisa berhenti untuk menatap keluar rumah, berharap kamu tiba-tiba ada
di situ, membawakanku selusin senyuman dan sepotong pelukan.
Aku
ini gadis bodoh yang hobinya cuma menangis, bermimpi, menulis, lalu
tak pernah tahu apa yang harus aku lakukan jika hatiku sedang sangat
remuk seperti ini. Aku tak tahu apa arti dari semua ini. Apa arti
hubungan kita yang berjalan hanya sesaat ini. Apa arti kebohonganmu
yang sebenarnya tak bisa dimaafkan tapi selalu berusaha aku maafkan.
Aku
tak mengerti mengapa pria sepertimu bisa membuat ku merasa gadis
paling gila di dunia. Kamu membuat duniaku jungkir balik,
pernapasanku selalu sesak karena lelah menangis, dan mataku selalu
kabut karena penuh mendung. Kamu mengubah duniaku jadi berbeda. Aku
sudah terbiasa denganmu. Terbiasa dengan pesan singkatmu, terbiasa
dengan sapaanmu di ujung telepon, terbiasa dengan pelukmu, terbiasa
dengan suara sepeda motormu, terbiasa dengan canda tawa kita didalam
mobil, terbiasa dengan hadirmu, terbiasa dengan kita. Bagaimana
mungkin kamu dan aku, yang sempat menjadi kita, harus kembali
berpisah lagi menjadi aku dan kamu, sedangkan aku sangat nyaman
menjadi kita?
Kamu
tentu tidak akan pernah tahu rasanya jadi aku. Rasanya jadi gadis
yang selalu menatap ponsel hanya karena menunggu kabar darimu. Kamu
tak tahu rasanya jadi wanita yang tak tahu apa-apa, namun tiba-tiba
dunianya jadi dibikin berbeda karena kehadiranmu. Kamu tak akan
pernah tahu rasanya jadi aku yg selalu menunggu kamu pulang.
Ada
banyak mimpi yang belum terwujud bersamamu. Salah satunya adalah aku
ingin memelukmu semalaman, tak perlu ada percakapan, memelukmu sudah
lebih dari cukup. Aku ingin mendengar degup jantungmu, merasakan
degup cinta seperti apa yang ada di dadamu. Jika sudah mewujudkan
mimpi yang satu itu, silakan kalau kamu mau pergi. Pergilah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar